Kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam menangani sengketa pemilihan umum pada hak politik mantan narapidana (analisis putusan nomor: 03-03/PHPU.DPD-XXII/2024)

Slamet Andhi Soemarsono, (NIM. 4032411012) (2026) Kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam menangani sengketa pemilihan umum pada hak politik mantan narapidana (analisis putusan nomor: 03-03/PHPU.DPD-XXII/2024). Masters thesis, Universitas Bangka Belitung.

[thumbnail of HALAMAN DEPAN.pdf] Text
HALAMAN DEPAN.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB)
[thumbnail of BAB I.pdf] Text
BAB I.pdf
Restricted to Registered users only

Download (617kB)
[thumbnail of BAB II.pdf] Text
BAB II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (336kB)
[thumbnail of BAB III.pdf] Text
BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (525kB)
[thumbnail of BAB IV.pdf] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (609kB)
[thumbnail of BAB V.pdf] Text
BAB V.pdf
Restricted to Registered users only

Download (239kB)
[thumbnail of DAFTAR PUSTAKA.pdf] Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf
Restricted to Registered users only

Download (277kB)
[thumbnail of LAMPIRAN.pdf] Text
LAMPIRAN.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (601kB)

Abstract

Hak politik merupakan salah satu hak fundamental yang dijamin dalam konstitusi dan menjadi pilar utama dalam sistem demokrasi, termasuk hak untuk memilih dan dipilih dalam pemilihan umum. Dalam praktiknya, pelaksanaan hak tersebut tidak terlepas dari potensi sengketa hasil pemilu yang memerlukan penyelesaian melalui mekanisme konstitusional. Penelitian ini bertujuan menganalisis kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam menyelesaikan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Dewan Perwakilan Daerah (DPD), khususnya terkait perlindungan hak politik mantan narapidana dalam Putusan Nomor 03-03/PHPU.DPD-XXII/2024. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama kewenangan Mahkamah Konstitusi bersumber dari Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 dan harus ditafsirkan secara sistematis bersama Pasal 22E dan Pasal 28D ayat (3) UUD 1945 dalam kerangka supremasi konstitusi. Kedua Penafsiran terhadap PHPU tidak melampaui kewenangan konstitusional (intra vires), melainkan merupakan penafsiran konstitusional yang utuh untuk menjamin perlindungan hak politik dan legitimasi hasil pemilu. Ketiga, putusan tersebut memperkuat kepastian hukum normatif, institusional, dan sistemik dalam demokrasi konstitusional Indonesia.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Mahkamah konstitusi; Perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU); Hak politik; Mantan narapidana; Kepastian hukum
Subjects: K Hukum > K Law (General)
Divisions: FAKULTAS HUKUM > MAGISTER HUKUM > TESIS
Depositing User: Darma -
Date Deposited: 08 Oct 2026 06:40
Last Modified: 08 Oct 2026 06:40
URI: https://repository.ubb.ac.id/id/eprint/13592

Actions (login required)

View Item View Item